Kisah Ash-habul Kahfi
Dalam surat al-Kahfi, Allah SWT menceritakan tiga
kisah masa lalu, yaitu kisah Ashabul Kahfi, kisah pertemuan nabi Musa as dan
nabi Khidzir as serta kisah Dzulqarnain. Kisah Ashabul Kahfi mendapat perhatian
lebih dengan digunakan sebagai nama surat dimana terdapat tiga kisah tersebut.
Hal ini tentu bukan kebetulan semata, tapi karena kisah Ashabul Kahfi, seperti
juga kisah dalam al-Quran lainnya, bukan merupakan kisah semata, tapi juga
terdapat banyak pelajaran (ibrah) didalamnya.
Ashabul Kahfi adalah nama sekelompok orang
beriman yang hidup pada masa Raja Diqyanus di Romawi, beberapa ratus tahun
sebelum diutusnya nabi Isa as. Mereka hidup ditengah masyarakat penyembah
berhala dengan seorang raja yang dzalim. Ketika sang raja mengetahui ada
sekelompok orang yang tidak menyembah berhala, maka sang raja marah lalu
memanggil mereka dan memerintahkan mereka untuk mengikuti kepercayaan sang
raja. Tapi Ashabul Kahfi menolak dan lari, dikejarlah mereka untuk dibunuh.
Ketika mereka lari dari kejaran pasukan raja, sampailah mereka di mulut sebuah
gua yang kemudian dipakai tempat persembunyian.
Dengan izin Allah mereka kemudian ditidurkan
selama 309 tahun di dalam gua, dan dibangkitkan kembali ketika masyarakat dan
raja mereka sudah berganti menjadi masyarakat dan raja yang beriman kepada
Allah SWT (Ibnu Katsir; Tafsir al-Quran al-’Adzil; jilid:3 ; hal.67-71).
1. Umar Bin Khattab Ditantang beberapa
Pendeta Nashrani
Di kala Umar Ibnul Khattab memangku jabatan
sebagai Amirul Mukminin, pernah datang kepadanya beberapa orang pendeta Yahudi.
Mereka berkata kepada Khalifah: “Hai Khalifah Umar, anda adalah pemegang
kekuasaan sesudah Muhammad dan sahabatnya, Abu Bakar. Kami hendak menanyakan
beberapa masalah penting kepada anda. Jika anda dapat memberi jawaban kepada
kami, barulah kami mau mengerti bahwa Islam merupakan agama yang benar dan Muhammad
benar-benar seorang Nabi. Sebaliknya, jika anda tidak dapat memberi jawaban,
berarti bahwa agama Islam itu bathil dan Muhammad bukan seorang Nabi.”
“Silahkan bertanya tentang apa saja yang kalian
inginkan,” sahut Khalifah Umar.
Pertanyaan Pendeta Nashrani
1)”Jelaskan kepada kami tentang induk
kunci (gembok) mengancing langit, apakah itu?” Tanya pendeta-pendeta
itu, memulai pertanyaan-pertanyaannya.2) “Terangkan
kepada kami tentang adanya sebuah kuburan yang berjalan bersama penghuninya,
apakah itu? 3).Tunjukkan kepada kami tentang suatu makhluk
yang dapat memberi peringatan kepada bangsanya, tetapi ia bukan manusia dan
bukan jin! 4).Terangkan kepada kami tentang lima jenis makhluk
yang dapat berjalan di permukaan bumi, tetapi makhluk-makhluk itu tidak
dilahirkan dari kandungan ibu atau atau induknya! 5).Beritahukan
kepada kami apa yang dikatakan oleh burung puyuh (gemak) di saat ia sedang
berkicau! Apakah yang dikatakan oleh ayam jantan di kala ia sedang berkokok!
Apakah yang dikatakan oleh kuda di saat ia sedang meringkik? Apakah yang
dikatakan oleh katak di waktu ia sedang bersuara? Apakah yang dikatakan oleh
keledai di saat ia sedang meringkik? Apakah yang dikatakan oleh burung pipit
pada waktu ia sedang berkicau?”
Khalifah Umar menundukkan kepala untuk berfikir
sejenak, kemudian berkata: “Bagi Umar, jika ia menjawab ‘tidak tahu’
atas pertanyaan-pertanyaan yang memang tidak diketahui jawabannya, itu bukan
suatu hal yang memalukan!”
Mendengar jawaban Khalifah Umar seperti itu,
pendeta-pendeta Yahudi yang bertanya berdiri melonjak-lonjak kegirangan, sambil
berkata: “Sekarang kami bersaksi bahwa Muhammad memang bukan seorang Nabi, dan
agama Islam itu adalah bathil!”
Salman Al-Farisi yang saat itu hadir,
segera bangkit dan berkata kepada pendeta-pendeta Yahudi itu: “Kalian
tunggu sebentar!” Ia cepat-cepat pergi ke rumah Ali bin Abi
Thalib. Setelah bertemu, Salman berkata: “Ya Abal
Hasan, selamatkanlah agama Islam!” Imam Ali r.a. bingung, lalu bertanya:
“Mengapa?“
Salman kemudian menceritakan apa yang sedang
dihadapi oleh Khalifah Umar Ibnul Khattab. Imam Ali segera saja berangkat
menuju ke rumah Khalifah Umar, berjalan lenggang memakai burdah (selembar kain
penutup punggung atau leher) peninggalan Rasul Allah s.a.w. Ketika Umar melihat
Ali bin Abi Thalib datang, ia bangun dari tempat duduk lalu buru-buru
memeluknya, sambil berkata: “Ya Abal Hasan, tiap ada kesulitan besar, engkau
selalu kupanggil!”
2. Ali bin Abi Thalib Menjawab Pertanyaan
Pendeta Nashrani
Setelah berhadap-hadapan dengan para pendeta yang
sedang menunggu-nunggu jawaban itu, Ali bin Abi Thalib herkata: “Silakan kalian
bertanya tentang apa saja yang kalian inginkan. Rasul Allah s.a.w. sudah
mengajarku seribu macam ilmu, dan tiap jenis dari ilmu-ilmu itu mempunyai
seribu macam cabang ilmu!”
Pendeta-pendeta Yahudi itu lalu mengulangi
pertanyaan-pertanyaan mereka. Sebelum menjawab, Ali bin Abi Thalib
berkata: “Aku ingin mengajukan suatu syarat kepada kalian, yaitu jika ternyata
aku nanti sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan kalian sesuai dengan yang ada di
dalam Taurat, kalian supaya bersedia memeluk agama kami dan beriman!”
“Ya baik!” jawab mereka. Jawab Para
Pendeta
Ali bin Abi Thalib berkata
“Sekarang tanyakanlah satu demi satu,”
Mereka mulai bertanya: “Apakah
induk kunci (gembok) yang mengancing pintu-pintu langit?”
Ali bin Abi Thalib, “Induk kunci
itu,ialah syirik kepada Allah. Sebab semua hamba Allah, baik pria maupun
wanita, jika ia bersyirik kepada Allah, amalnya tidak akan dapat naik sampai ke
hadhirat Allah!”
Para pendeta Yahudi bertanya lagi:
“Anak kunci apakah yang dapat membuka pintu-pintu langit?”
Ali bin Abi Thalib menjawab:
“Anak kunci itu ialah kesaksian (syahadat) bahwa tiada tuhan selain Allah dan
Muhammad adalah Rasul Allah!”
Para pendeta Yahudi itu saling
pandang di antara mereka, sambil berkata: “Orang itu benar juga!” Mereka
bertanya lebih lanjut: “Terangkanlah kepada kami tentang adanya sebuah kuburan
yang dapat berjalan bersama penghuninya!”
Ali bin Abi Thalib Menjawab.
“Kuburan itu ialah ikan hiu (hut) yang menelan Nabi Yunus putera Matta,” “Nabi
Yunus as. dibawa keliling ketujuh samudera!”
Pendeta-pendeta itu meneruskan
pertanyaannya lagi: “Jelaskan kepada kami tentang makhluk yang dapat memberi
peringatan kepada bangsanya, tetapi makhluk itu bukan manusia dan bukan jin!”
Ali bin Abi Thalib menjawab:
“Makhluk itu ialah semut Nabi Sulaiman putera Nabi Dawud alaihimas salam. Semut
itu berkata kepada kaumnya: “Hai para semut, masuklah ke dalam tempat kediaman
kalian, agar tidak diinjak-injak oleh Sulaiman dan pasukan-nya dalam keadaan
mereka tidak sadar!”
Para pendeta Yahudi itu
meneruskan pertanyaannya: “Beritahukan kepada kami tentang lima jenis makhluk
yang berjalan di atas permukaan bumi, tetapi tidak satu pun di antara
makhluk-makhluk itu yang dilahirkan dari kandungan ibunya atau induknya!”
Ali bin Abi Thalib menjawab:
“Lima makhluk itu ialah, pertama, Adam. Kedua, Hawa. Ketiga, Unta Nabi Shaleh.
Keempat, Domba Nabi Ibrahim. Kelima, Tongkat Nabi Musa (yang menjelma menjadi
seekor ular).”
Dua di antara tiga orang pendeta Yahudi itu
setelah mendengar jawaban-jawaban serta penjelasan yang diberikan oleh Imam Ali
r.a. lalu mengatakan: “Kami bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan
Muhammad adalah Rasul Allah!”
Tetapi seorang pendeta lainnya, bangun berdiri
sambil berkata kepada Ali bin Abi Thalib: “Hai Ali, hati teman-temanku sudah
dihinggapi oleh sesuatu yang sama seperti iman dan keyakinan mengenai benarnya
agama Islam. Sekarang masih ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan kepada
anda.”
Seorang Pendeta yang belum beriman
“Tanyakanlah apa saja yang kau inginkan,” sahut Imam Ali. ”Coba terangkan
kepadaku tentang sejumlah orang yang pada zaman dahulu sudah mati selama 309
tahun, kemudian dihidupkan kembali oleh Allah. Bagaimana hikayat tentang mereka
itu?” Tanya pendeta tadi.
Ali bin Ali Thalib menjawab:
“Hai pendeta Yahudi, mereka itu ialah para penghuni gua. Hikayat tentang mereka
itu sudah dikisahkan oleh Allah s.w.t. kepada Rasul-Nya. Jika engkau mau, akan
kubacakan kisah mereka itu.”
Pendeta Yahudi itu menyahut:
“Aku sudah banyak mendengar tentang Qur’an kalian itu! Jika engkau memang
benar-benar tahu, coba sebutkan nama-nama mereka, nama ayah-ayah mereka, nama
kota mereka, nama raja mereka, nama anjing mereka, nama gunung serta gua
mereka, dan semua kisah mereka dari awal sampai akhir!”
Ali bin Abi Thalib kemudian
membetulkan duduknya, menekuk lutut ke depan perut, lalu ditopangnya dengan
burdah yang diikatkan ke pinggang. Lalu ia berkata: “Hai saudara Yahudi,
Muhammad Rasul Allah s.a.w. kekasihku telah menceritakan kepadaku, bahwa kisah
itu terjadi di negeri Romawi, di sebuah kota bernama Aphesus, atau disebut juga
dengan nama Tharsus. Tetapi nama kota itu pada zaman dahulu ialah Aphesus
(Ephese). Baru setelah Islam datang, kota itu berubah nama menjadi Tharsus
(Tarse, sekarang terletak di dalam wilayah Turki). Penduduk negeri itu
dahulunya mempunyai seorang raja yang baik. Setelah raja itu meninggal dunia,
berita kematiannya didengar oleh seorang raja Persia bernama Diqyanius. Ia
seorang raja kafir yang amat congkak dan dzalim. Ia datang menyerbu negeri itu
dengan kekuatan pasukannya, dan akhirnya berhasil menguasai kota Aphesus.
Olehnya kota itu dijadikan ibukota kerajaan, lalu dibangunlah sebuah Istana.”
Baru sampai di situ, pendeta Yahudi
yang bertanya itu berdiri, terus bertanya: “Jika engkau benar-benar tahu, coba
terangkan kepadaku bentuk Istana itu, bagaimana serambi dan
ruangan-ruangannya!”
Ali bin Abi Thalib menerangkan:
“Hai saudara Yahudi, raja itu membangun istana yang sangat megah, terbuat dari
batu marmar. Panjangnya satu farsakh (= kl 8 km) dan lebarnya pun satu farsakh.
Pilar-pilarnya yang berjumlah seribu buah, semuanya terbuat dari emas, dan
lampu-lampu yang berjumlah seribu buah, juga semuanya terbuat dari emas.
Lampu-lampu itu bergelantungan pada rantai-rantai yang terbuat dari perak. Tiap
malam apinya dinyalakan dengan sejenis minyak yang harum baunya. Di sebelah
timur serambi dibuat lubang-lubang cahaya sebanyak seratus buah, demikian pula
di sebelah baratnya. Sehingga matahari sejak mulai terbit sampai terbenam
selalu dapat menerangi serambi. Raja itu pun membuat sebuah singgasana dari
emas. Panjangnya 80 hasta dan lebarnya 40 hasta. Di sebelah kanannya tersedia
80 buah kursi, semuanya terbuat dari emas. Di situlah para hulubalang kerajaan
duduk. Di sebelah kirinya juga disediakan 80 buah kursi terbuat dari emas,
untuk duduk para pepatih dan penguasa-penguasa tinggi lainnya. Raja duduk di
atas singgasana dengan mengenakan mahkota di atas kepala.”
Sampai di situ pendeta yang
bersangkutan berdiri lagi sambil berkata: “Jika engkau benar-benar tahu, coba
terangkan kepadaku dari apakah mahkota itu dibuat?”
Imam Ali menerangkan “Hai
saudara Yahudi,”, “mahkota raja itu terbuat dari kepingan-kepingan emas,
berkaki 9 buah, dan tiap kakinya bertaburan mutiara yang memantulkan cahaya
laksana bintang-bintang menerangi kegelapan malam. Raja itu juga mempunyai 50
orang pelayan, terdiri dari anak-anak para hulubalang. Semuanya memakai
selempang dan baju sutera berwarna merah. Celana mereka juga terbuat dari
sutera berwarna hijau. Semuanya dihias dengan gelang-gelang kaki yang sangat
indah. Masing-masing diberi tongkat terbuat dari emas. Mereka harus berdiri di
belakang raja. Selain mereka, raja juga mengangkat 6 orang, terdiri dari
anak-anak para cendekiawan, untuk dijadikan menteri-menteri atau
pembantu-pembantunya. Raja tidak mengambil suatu keputusan apa pun tanpa
berunding lebih dulu dengan mereka. Enam orang pembantu itu selalu berada di
kanan kiri raja, tiga orang berdiri di sebelah kanan dan yang tiga orang
lainnya berdiri di sebelah kiri.”
Pendeta yang bertanya itu
berdiri lagi. Lalu berkata: “Hai Ali, jika yang kau katakan itu benar, coba
sebutkan nama enam orang yang menjadi pembantu-pembantu raja itu!”
Imam Ali r.a. menjawab,:
“Kekasihku Muhammad Rasul Allah s.a.w. menceritakan kepadaku, bahwa tiga orang
yang berdiri di sebelah kanan raja, masing-masing bernama Tamlikha, Miksalmina,
dan Mikhaslimina. Adapun tiga orang pembantu yang berdiri di sebelah kiri,
masing-masing bernama Martelius, Casitius dan Sidemius. Raja selalu berunding
dengan mereka mengenai segala urusan.
Tiap hari setelah raja duduk dalam serambi istana
dikerumuni oleh semua hulubalang dan para punggawa, masuklah tiga orang pelayan
menghadap raja. Seorang diantaranya membawa piala emas penuh berisi wewangian
murni. Seorang lagi membawa piala perak penuh berisi air sari bunga. Sedang
yang seorangnya lagi membawa seekor burung. Orang yang membawa burung ini
kemudian mengeluarkan suara isyarat, lalu burung itu terbang di atas piala yang
berisi air sari bunga. Burung itu berkecimpung di dalamnya dan setelah itu ia
mengibas-ngibaskan sayap serta bulunya, sampai sari-bunga itu habis dipercikkan
ke semua tempat sekitarnya.
Kemudian si pembawa burung tadi mengeluarkan
suara isyarat lagi. Burung itu terbang pula. Lalu hinggap di atas piala yang
berisi wewangian murni. Sambil berkecimpung di dalamnya, burung itu
mengibas-ngibaskan sayap dan bulunya, sampai wewangian murni yang ada dalam
piala itu habis dipercikkan ke tempat sekitarnya. Pembawa burung itu memberi isyarat
suara lagi. Burung itu lalu terbang dan hinggap di atas mahkota raja, sambil
membentangkan kedua sayap yang harum semerbak di atas kepala raja.
Demikianlah raja itu berada di atas singgasana
kekuasaan selama tiga puluh tahun. Selama itu ia tidak pernah diserang penyakit
apa pun, tidak pernah merasa pusing kepala, sakit perut, demam, berliur,
berludah atau pun beringus. Setelah sang raja merasa diri sedemikian kuat dan
sehat, ia mulai congkak, durhaka dan dzalim. Ia mengaku-aku diri sebagai
“tuhan” dan tidak mau lagi mengakui adanya Allah s.w.t.
Raja itu kemudian memanggil orang-orang terkemuka
dari rakyatnya. Barang siapa yang taat dan patuh kepadanya, diberi pakaian dan
berbagai macam hadiah lainnya. Tetapi barang siapa yang tidak mau taat atau
tidak bersedia mengikuti kemauannya, ia akan segera dibunuh. Oleh sebab itu
semua orang terpaksa mengiakan kemauannya. Dalam masa yang cukup lama, semua
orang patuh kepada raja itu, sampai ia disembah dan dipuja. Mereka tidak lagi
memuja dan menyembah Allah s.w.t.
Pada suatu hari perayaan ulang-tahunnya, raja
sedang duduk di atas singgasana mengenakan mahkota di atas kepala, tiba-tiba
masuklah seorang hulubalang memberi tahu, bahwa ada balatentara asing masuk
menyerbu ke dalam wilayah kerajaannya, dengan maksud hendak melancarkan
peperangan terhadap raja. Demikian sedih dan bingungnya raja itu, sampai tanpa
disadari mahkota yang sedang dipakainya jatuh dari kepala. Kemudian raja itu
sendiri jatuh terpelanting dari atas singgasana. Salah seorang pembantu yang
berdiri di sebelah kanan –seorang cerdas yang bernama Tamlikha– memperhatikan
keadaan sang raja dengan sepenuh fikiran. Ia berfikir, lalu berkata di dalam
hati: “Kalau Diqyanius itu benar-benar tuhan sebagaimana menurut pengakuannya,
tentu ia tidak akan sedih, tidak tidur, tidak buang air kecil atau pun air
besar. Itu semua bukanlah sifat-sifat Tuhan.”
Enam orang pembantu raja itu tiap hari selalu
mengadakan pertemuan di tempat salah seorang dari mereka secara bergiliran.
Pada satu hari tibalah giliran Tamlikha menerima kunjungan lima orang temannya.
Mereka berkumpul di rumah Tamlikha untuk makan dan minum, tetapi Tamlikha
sendiri tidak ikut makan dan minum. Teman-temannya bertanya: “Hai Tamlikha,
mengapa engkau tidak mau makan dan tidak mau minum?”
“Teman-teman,” sahut Tamlikha, “hatiku sedang
dirisaukan oleh sesuatu yang membuatku tidak ingin makan dan tidak ingin minum,
juga tidak ingin tidur.”
Teman-temannya mengejar: “Apakah yang merisaukan
hatimu, hai Tamlikha?”
“Sudah lama aku memikirkan soal langit,” ujar Tamlikha
menjelaskan. “Aku lalu bertanya pada diriku sendiri: ‘siapakah yang
mengangkatnya ke atas sebagai atap yang senantiasa aman dan terpelihara, tanpa
gantungan dari atas dan tanpa tiang yang menopangnya dari bawah? Siapakah yang
menjalankan matahari dan bulan di langit itu? Siapakah yang menghias langit itu
dengan bintang-bintang bertaburan?’ Kemudian kupikirkan juga bumi ini:
‘Siapakah yang membentang dan menghamparkan-nya di cakrawala? Siapakah yang
menahannya dengan gunung-gunung raksasa agar tidak goyah, tidak goncang dan
tidak miring?’ Aku juga lama sekali memikirkan diriku sendiri: ‘Siapakah yang
mengeluarkan aku sebagai bayi dari perut ibuku? Siapakah yang memelihara
hidupku dan memberi makan kepadaku? Semuanya itu pasti ada yang membuat, dan sudah
tentu bukan Diqyanius’…”
Teman-teman Tamlikha lalu bertekuk lutut di
hadapannya. Dua kaki Tamlikha diciumi sambil berkata: “Hai Tamlikha dalam hati
kami sekarang terasa sesuatu seperti yang ada di dalam hatimu. Oleh karena itu,
baiklah engkau tunjukkan jalan keluar bagi kita semua!”
“Saudara-saudara,” jawab Tamlikha, “baik aku
maupun kalian tidak menemukan akal selain harus lari meninggalkan raja yang
dzalim itu, pergi kepada Raja pencipta langit dan bumi!”
“Kami setuju dengan pendapatmu,” sahut teman-temannya.
Tamlikha lalu berdiri, terus beranjak pergi untuk
menjual buah kurma, dan akhirnya berhasil mendapat uang sebanyak 3 dirham. Uang
itu kemudian diselipkan dalam kantong baju. Lalu berangkat berkendaraan kuda
bersama-sama dengan lima orang temannya.
Setelah berjalan 3 mil jauhnya dari kota,
Tamlikha berkata kepada teman-temannya: “Saudara-saudara, kita sekarang sudah
terlepas dari raja dunia dan dari kekuasaannya. Sekarang turunlah kalian dari
kuda dan marilah kita berjalan kaki. Mudah-mudahan Allah akan memudahkan urusan
kita serta memberikan jalan keluar.”
Mereka turun dari kudanya masing-masing. Lalu
berjalan kaki sejauh 7 farsakh, sampai kaki mereka bengkak berdarah karena
tidak biasa berjalan kaki sejauh itu.
Tiba-tiba datanglah seorang penggembala menyambut
mereka. Kepada penggembala itu mereka bertanya: “Hai penggembala, apakah engkau
mempunyai air minum atau susu?”
“Aku mempunyai semua yang kalian inginkan,” sahut
penggembala itu. “Tetapi kulihat wajah kalian semuanya seperti kaum bangsawan.
Aku menduga kalian itu pasti melarikan diri. Coba beritahukan kepadaku
bagaimana cerita perjalanan kalian itu!”
“Ah…, susahnya orang ini,” jawab mereka. “Kami
sudah memeluk suatu agama, kami tidak boleh berdusta. Apakah kami akan selamat
jika kami mengatakan yang sebenarnya?”
“Ya,” jawab penggembala itu.
Tamlikha dan teman-temannya lalu menceritakan
semua yang terjadi pada diri mereka. Mendengar cerita mereka, penggembala itu
segera bertekuk lutut di depan mereka, dan sambil menciumi kaki mereka, ia
berkata: “Dalam hatiku sekarang terasa sesuatu seperti yang ada dalam hati
kalian. Kalian berhenti sajalah dahulu di sini. Aku hendak mengembalikan
kambing-kambing itu kepada pemiliknya. Nanti aku akan segera kembali lagi
kepada kalian.”
Tamlikha bersama teman-temannya berhenti.
Penggembala itu segera pergi untuk mengembalikan kambing-kambing gembalaannya.
Tak lama kemudian ia datang lagi berjalan kaki, diikuti oleh seekor anjing
miliknya.”
Waktu cerita Imam Ali sampai di situ, pendeta
Yahudi yang bertanya melonjak berdiri lagi sambil berkata: “Hai Ali, jika
engkau benar-benar tahu, coba sebutkan apakah warna anjing itu dan siapakah
namanya?”
“Hai saudara Yahudi,” kata Ali bin Abi
Thalib memberitahukan, “kekasihku Muhammad Rasul Allah s.a.w.
menceritakan kepadaku, bahwa anjing itu berwarna kehitam-hitaman dan bernama
Qithmir. Ketika enam orang pelarian itu melihat seekor anjing, masing-masing
saling berkata kepada temannya: kita khawatir kalau-kalau anjing itu nantinya
akan membongkar rahasia kita! Mereka minta kepada penggembala supaya anjing itu
dihalau saja dengan batu.
Anjing itu melihat kepada Tamlikha dan
teman-temannya, lalu duduk di atas dua kaki belakang, menggeliat, dan
mengucapkan kata-kata dengan lancar dan jelas sekali: “Hai orang-orang, mengapa
kalian hendak mengusirku, padahal aku ini bersaksi tiada tuhan selain Allah,
tak ada sekutu apa pun bagi-Nya. Biarlah aku menjaga kalian dari musuh, dan
dengan berbuat demikian aku mendekatkan diriku kepada Allah s.w.t.”
Anjing itu akhirnya dibiarkan saja. Mereka lalu
pergi. Penggembala tadi mengajak mereka naik ke sebuah bukit. Lalu bersama
mereka mendekati sebuah gua.”
Pendeta Yahudi yang menanyakan
kisah itu, bangun lagi dari tempat duduknya sambil berkata: “Apakah nama gunung
itu dan apakah nama gua itu?!”
Imam Ali menjelaskan: “Gunung
itu bernama Naglus dan nama gua itu ialah Washid, atau di sebut juga dengan
nama Kheram!”
Ali bin Abi Thalib meneruskan
ceritanya: secara tiba-tiba di depan gua itu tumbuh pepohonan berbuah dan
memancur mata-air deras sekali. Mereka makan buah-buahan dan minum air yang
tersedia di tempat itu. Setelah tiba waktu malam, mereka masuk berlindung di
dalam gua. Sedang anjing yang sejak tadi mengikuti mereka, berjaga-jaga
sambil menjulurkan dua kaki depan untuk menghalang-halangi pintu gua.
Kemudian Allah s.w.t. memerintahkan Malaikat maut supaya mencabut nyawa mereka.
Kepada masing-masing orang dari mereka Allah s.w.t. mewakilkan dua Malaikat
untuk membalik-balik tubuh mereka dari kanan ke kiri. Allah lalu memerintahkan
matahari supaya pada saat terbit condong memancarkan sinarnya ke dalam gua dari
arah kanan, dan pada saat hampir terbenam supaya sinarnya mulai meninggalkan
mereka dari arah kiri.
Suatu ketika waktu raja Diqyanius baru saja
selesai berpesta ia bertanya tentang enam orang pembantunya. Ia mendapat
jawaban, bahwa mereka itu melarikan diri. Raja Diqyanius sangat gusar. Bersama
80.000 pasukan berkuda ia cepat-cepat berangkat menyelusuri jejak enam orang
pembantu yang melarikan diri. Ia naik ke atas bukit, kemudian mendekati gua. Ia
melihat enam orang pembantunya yang melarikan diri itu sedang tidur berbaring
di dalam gua. Ia tidak ragu-ragu dan memastikan bahwa enam orang itu
benar-benar sedang tidur.
Kepada para pengikutnya ia berkata: “Kalau aku
hendak menghukum mereka, tidak akan kujatuhkan hukuman yang lebih berat dari
perbuatan mereka yang telah menyiksa diri mereka sendiri di dalam gua.
Panggillah tukang-tukang batu supaya mereka segera datang ke mari!”
Setelah tukang-tukang batu itu tiba, mereka
diperintahkan menutup rapat pintu gua dengan batu-batu dan jish (bahan semacam
semen). Selesai dikerjakan, raja berkata kepada para pengikutnya: “Katakanlah
kepada mereka yang ada di dalam gua, kalau benar-benar mereka itu tidak
berdusta supaya minta tolong kepada Tuhan mereka yang ada di langit, agar
mereka dikeluarkan dari tempat itu.”
Dalam guha tertutup rapat itu, mereka tinggal
selama 309 tahun.
Setelah masa yang amat panjang itu lampau, Allah
s.w.t. mengembalikan lagi nyawa mereka. Pada saat matahari sudah mulai
memancarkan sinar, mereka merasa seakan-akan baru bangun dari tidurnya
masing-masing. Yang seorang berkata kepada yang lainnya: “Malam tadi kami lupa
beribadah kepada Allah, mari kita pergi ke mata air!”
Setelah mereka berada di luar gua, tiba-tiba
mereka lihat mata air itu sudah mengering kembali dan pepohonan yang ada pun
sudah menjadi kering semuanya. Allah s.w.t. membuat mereka mulai merasa lapar.
Mereka saling bertanya: “Siapakah di antara kita ini yang sanggup dan bersedia
berangkat ke kota membawa uang untuk bisa mendapatkan makanan? Tetapi yang akan
pergi ke kota nanti supaya hati-hati benar, jangan sampai membeli makanan yang
dimasak dengan lemak-babi.”
Tamlikha kemudian berkata: “Hai saudara-saudara,
aku sajalah yang berangkat untuk mendapatkan makanan. Tetapi, hai penggembala,
berikanlah bajumu kepadaku dan ambillah bajuku ini!”
Setelah Tamlikha memakai baju penggembala, ia
berangkat menuju ke kota. Sepanjang jalan ia melewati tempat-tempat yang sama
sekali belum pernah dikenalnya, melalui jalan-jalan yang belum pernah
diketahui. Setibanya dekat pintu gerbang kota, ia melihat bendera hijau
berkibar di angkasa bertuliskan: “Tiada Tuhan selain Allah dan Isa adalah Roh
Allah.”
Tamlikha berhenti sejenak memandang bendera itu
sambil mengusap-usap mata, lalu berkata seorang diri: “Kusangka aku ini masih
tidur!” Setelah agak lama memandang dan mengamat-amati bendera, ia meneruskan
perjalanan memasuki kota. Dilihatnya banyak orang sedang membaca Injil. Ia
berpapasan dengan orang-orang yang belum pernah dikenal. Setibanya di sebuah
pasar ia bertanya kepada seorang penjaja roti: “Hai tukang roti, apakah nama
kota kalian ini?”
“Aphesus,” sahut penjual roti itu.
“Siapakah nama raja kalian?” tanya Tamlikha lagi.
“Abdurrahman,” jawab penjual roti.
“Kalau yang kau katakan itu benar,” kata
Tamlikha, “urusanku ini sungguh aneh sekali! Ambillah uang ini dan berilah
makanan kepadaku!”
Melihat uang itu, penjual roti keheran-heranan.
Karena uang yang dibawa Tamlikha itu uang zaman lampau, yang ukurannya lebih
besar dan lebih berat.
Pendeta Yahudi yang bertanya itu
kemudian berdiri lagi, lalu berkata kepada Ali bin Abi Thalib: “Hai Ali, kalau
benar-benar engkau mengetahui, coba terangkan kepadaku berapa nilai uang lama
itu dibanding dengan uang baru!”
Imam Ali menerangkan: “Kekasihku
Muhammad Rasul Allah s.a.w. menceritakan kepadaku, bahwa uang yang dibawa oleh
Tamlikha dibanding dengan uang baru, ialah tiap dirham lama sama dengan sepuluh
dan dua pertiga dirham baru!”
Imam Ali kemudian melanjutkan
ceritanya: Penjual Roti lalu berkata kepada Tamlikha: “Aduhai, alangkah
beruntungnya aku! Rupanya engkau baru menemukan harta karun! Berikan sisa uang
itu kepadaku! Kalau tidak, engkau akan ku hadapkan kepada raja!”
“Aku tidak menemukan harta karun,” sangkal
Tamlikha. “Uang ini ku dapat tiga hari yang lalu dari hasil penjualan buah
kurma seharga tiga dirham! Aku kemudian meninggalkan kota karena orang-orang
semuanya menyembah Diqyanius!”
Penjual roti itu marah. Lalu berkata: “Apakah
setelah engkau menemukan harta karun masih juga tidak rela menyerahkan sisa
uangmu itu kepadaku? Lagi pula engkau telah menyebut-nyebut seorang raja
durhaka yang mengaku diri sebagai tuhan, padahal raja itu sudah mati lebih dari
300 tahun yang silam! Apakah dengan begitu engkau hendak memperolok-olok aku?”
Tamlikha lalu ditangkap. Kemudian dibawa pergi
menghadap raja. Raja yang baru ini seorang yang dapat berfikir dan bersikap
adil. Raja bertanya kepada orang-orang yang membawa Tamlikha: “Bagaimana cerita
tentang orang ini?”
“Dia menemukan harta karun,” jawab orang-orang
yang membawanya.
Kepada Tamlikha, raja berkata: “Engkau tak perlu
takut! Nabi Isa a.s. memerintahkan supaya kami hanya memungut seperlima saja
dari harta karun itu. Serahkanlah yang seperlima itu kepadaku, dan selanjutnya
engkau akan selamat.”
Tamlikha menjawab: “Baginda, aku sama sekali
tidak menemukan harta karun! Aku adalah penduduk kota ini!”
Raja bertanya sambil keheran-heranan: “Engkau
penduduk kota ini?”
“Ya. Benar,” sahut Tamlikha.
“Adakah orang yang kau kenal?” tanya raja lagi.
“Ya, ada,” jawab Tamlikha.
“Coba sebutkan siapa namanya,” perintah raja.
Tamlikha menyebut nama-nama kurang lebih 1000
orang, tetapi tak ada satu nama pun yang dikenal oleh raja atau oleh orang lain
yang hadir mendengarkan. Mereka berkata: “Ah…, semua itu bukan nama orang-orang
yang hidup di zaman kita sekarang. Tetapi, apakah engkau mempunyai rumah di
kota ini?”
“Ya, tuanku,” jawab Tamlikha. “Utuslah seorang
menydrtai aku!”
Raja kemudian memerintahkan beberapa orang
menyertai Tamlikha pergi. Oleh Tamlikha mereka diajak menuju ke sebuah rumah
yang paling tinggi di kota itu. Setibanya di sana, Tamlikha berkata kepada
orang yang mengantarkan: “Inilah rumahku!”
Pintu rumah itu lalu diketuk. Keluarlah seorang
lelaki yang sudah sangat lanjut usia. Sepasang alis di bawah keningnya sudah sedemikian
putih dan mengkerut hampir menutupi mata karena sudah terlampau tua. Ia
terperanjat ketakutan, lalu bertanya kepada orang-orang yang datang: “Kalian
ada perlu apa?”
Utusan raja yang menyertai Tamlikha menyahut:
“Orang muda ini mengaku rumah ini adalah rumahnya!”
Orang tua itu marah, memandang kepada Tamlikha.
Sambil mengamat-amati ia bertanya: “Siapa namamu?”
“Aku Tamlikha anak Filistin!”
Orang tua itu lalu berkata: “Coba ulangi lagi!”
Tamlikha menyebut lagi namanya. Tiba-tiba orang
tua itu bertekuk lutut di depan kaki Tamlikha sambil berucap: “Ini adalah
datukku! Demi Allah, ia salah seorang di antara orang-orang yang melarikan diri
dari Diqyanius, raja durhaka.” Kemudian diteruskannya dengan suara haru: “Ia
lari berlindung kepada Yang Maha Perkasa, Pencipta langit dan bumi. Nabi kita,
Isa as., dahulu telah memberitahukan kisah mereka kepada kita dan mengatakan
bahwa mereka itu akan hidup kembali!”
Peristiwa yang terjadi di rumah orang tua itu
kemudian di laporkan kepada raja. Dengan menunggang kuda, raja segera datang
menuju ke tempat Tamlikha yang sedang berada di rumah orang tua tadi. Setelah
melihat Tamlikha, raja segera turun dari kuda. Oleh raja Tamlikha diangkat ke
atas pundak, sedangkan orang banyak beramai-ramai menciumi tangan dan kaki Tamlikha
sambil bertanya-tanya: “Hai Tamlikha, bagaimana keadaan teman-temanmu?”
Kepada mereka Tamlikha memberi tahu, bahwa semua
temannya masih berada di dalam gua.
“Pada masa itu kota Aphesus diurus oleh dua orang
bangsawan istana. Seorang beragama Islam dan seorang lainnya lagi beragama
Nasrani. Dua orang bangsawan itu bersama pengikutnya masing-masing pergi
membawa Tamlikha menuju ke gua,” demikian Imam Ali melanjutkan ceritanya.
Teman-teman Tamlikha semuanya masih berada di
dalam gua itu. Setibanya dekat gua, Tamlikha berkata kepada dua orang bangsawan
dan para pengikut mereka: “Aku khawatir kalau sampai teman-temanku mendengar
suara tapak kuda, atau gemerincingnya senjata. Mereka pasti menduga Diqyanius
datang dan mereka bakal mati semua. Oleh karena itu kalian berhenti saja di
sini. Biarlah aku sendiri yang akan menemui dan memberitahu mereka!”
Semua berhenti menunggu dan Tamlikha masuk
seorang diri ke dalam gua. Melihat Tamlikha datang, teman-temannya berdiri
kegirangan, dan Tamlikha dipeluknya kuat-kuat. Kepada Tamlikha mereka berkata:
“Puji dan syukur bagi Allah yang telah menyelamatkan dirimu dari Diqyanius!”
Tamlikha menukas: “Ada urusan apa dengan
Diqyanius? Tahukah kalian, sudah berapa lamakah kalian tinggal di sini?”
“Kami tinggal sehari atau beberapa hari saja,”
jawab mereka.
“Tidak!” sangkal Tamlikha. “Kalian sudah tinggal
di sini selama 309 tahun! Diqyanius sudah lama meninggal dunia! Generasi demi
generasi sudah lewat silih berganti, dan penduduk kota itu sudah beriman kepada
Allah yang Maha Agung! Mereka sekarang datang untuk bertemu dengan kalian!”
Teman-teman Tamlikha menyahut: “Hai Tamlikha,
apakah engkau hendak menjadikan kami ini orang-orang yang menggemparkan seluruh
jagad?”
“Lantas apa yang kalian inginkan?” Tamlikha balik
bertanya.
“Angkatlah tanganmu ke atas dan kami pun akan
berbuat seperti itu juga,” jawab mereka Mereka bertujuh semua mengangkat tangan
ke atas, kemudian berdoa: “Ya Allah, dengan kebenaran yang telah Kau
perlihatkan kepada kami tentang keanehan-keanehan yang kami alami sekarang ini,
cabutlah kembali nyawa kami tanpa sepengetahuan orang lain!”
Allah s.w.t. mengabulkan permohonan mereka. Lalu
memerintahkan Malaikat maut mencabut kembali nyawa mereka. Kemudian Allah
s.w.t. melenyapkan pintu gua tanpa bekas. Dua orang bangsawan yang
menunggu-nunggu segera maju mendekati gua, berputar-putar selama tujuh hari
untuk mencari-cari pintunya, tetapi tanpa hasil. Tak dapat ditemukan lubang
atau jalan masuk lainnya ke dalam gua. Pada saat itu dua orang bangsawan tadi
menjadi yakin tentang betapa hebatnya kekuasaan Allah s.w.t. Dua orang
bangsawan itu memandang semua peristiwa yang dialami oleh para penghuni gua,
sebagai peringatan yang diperlihatkan Allah kepada mereka.
Bangsawan yang beragama Islam lalu berkata:
“Mereka mati dalam keadaan memeluk agamaku! Akan ku dirikan sebuah tempat
ibadah di pintu gua itu.”
Sedang bangsawan yang beragama Nasrani berkata
pula: “Mereka mati dalam keadaan memeluk agamaku! Akan ku dirikan sebuah biara
di pintu gua itu.”
Dua orang bangsawan itu bertengkar, dan setelah
melalui pertikaian senjata, akhirnya bangsawan Nasrani terkalahkan oleh
bangsawan yang beragama Islam. Dengan terjadinya peristiwa tersebut, maka Allah
berfirman:
وَكَذَلِكَ أَعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ لِيَعْلَمُوا
أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَأَنَّ السَّاعَةَ لَا رَيْبَ فِيهَا إِذْ
يَتَنَازَعُونَ بَيْنَهُمْ أَمْرَهُمْ فَقَالُوا ابْنُوا عَلَيْهِم بُنْيَانًا
رَّبُّهُمْ أَعْلَمُ بِهِمْ قَالَ الَّذِينَ غَلَبُوا عَلَى أَمْرِهِمْ
لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِم مَّسْجِدًا
Dan begitulah Kami menyerempakkan mereka,
supaya mereka mengetahui bahawa janji Allah adalah benar, dan bahawa Saat itu
tidak ada keraguan padanya. Apabila mereka berbalahan antara mereka dalam
urusan mereka, maka mereka berkata, “Binalah di atas mereka satu bangunan;
Pemelihara mereka sangat mengetahui mengenai mereka.” Berkata orang-orang yang
menguasai atas urusan mereka, “Kami akan membina di atas mereka sebuah masjid.”
Sampai di situ Imam Ali bin Abi Thalib berhenti
menceritakan kisah para penghuni gua. Kemudian berkata kepada pendeta Yahudi
yang menanyakan kisah itu: “Itulah, hai Yahudi, apa yang telah terjadi dalam
kisah mereka. Demi Allah, sekarang aku hendak bertanya kepadamu, apakah semua
yang ku ceritakan itu sesuai dengan apa yang tercantum dalam Taurat kalian?”
Pendeta Yahudi itu menjawab: “Ya
Abal Hasan, engkau tidak menambah dan tidak mengurangi, walau satu huruf pun!
Sekarang engkau jangan menyebut diriku sebagai orang Yahudi, sebab aku telah
bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba Allah
serta Rasul-Nya. Aku pun bersaksi juga, bahwa engkau orang yang paling berilmu
di kalangan ummat ini!”
Demikianlah hikayat tentang para penghuni gua
(Ashhabul Kahfi), kutipan dari kitab Qishasul Anbiya yang tercantum dalam kitab
Fadha ‘ilul Khamsah Minas Shihahis Sittah, tulisan As Sayyid Murtadha Al
Huseiniy Al Faruz Aabaad, dalam menunjukkan banyaknya ilmu pengetahuan yang
diperoleh Imam Ali bin Abi Thalib dari Rasul All` hs.a.w.
3. Kisah Al-Kahfi dalam Al-Qur’an
Ashhabul Kahfi adalah para pemuda yang diberi
taufik dan ilham oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga mereka beriman dan
mengenal Rabb mereka. Mereka mengingkari keyakinan yang dianut oleh masyarakat
mereka yang menyembah berhala. Mereka hidup di tengah-tengah bangsanya sembari
tetap menampakkan keimanan mereka ketika berkumpul sesama mereka, sekaligus
karena khawatir akan gangguan masyarakatnya. Mereka mengatakan:
رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ لَنْ
نَدْعُوَ مِنْ دُوْنِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا
“Rabb kami adalah Rabb langit dan bumi, kami
sekali-kali tidak akan menyeru Rabb selain Dia, sesungguhnya kami kalau
demikian telah mengucapkan perkataan yang jauh.” (Al-Kahfi: 14)
Yakni, apabila kami berdoa kepada selain Dia,
berarti kami telah mengucapkan suatu شَطَطًا (perkataan yang jauh), yaitu
perkataan palsu, dusta, dan dzalim. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan
perkataan mereka selanjutnya:
هَؤُلاَءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِنْ دُوْنِهِ
آلِهَةً لَوْلاَ يَأْتُوْنَ عَلَيْهِمْ بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ فَمَنْ أَظْلَمُ
مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللهِ كَذِبًا
“Kaum kami ini telah mengambil sesembahan-sesembahan selain Dia. Mereka tidak mengajukan alasan yang terang (tentang keyakinan mereka?) Siapakah yng lebih dzalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?” (Al-Kahfi: 15)
“Kaum kami ini telah mengambil sesembahan-sesembahan selain Dia. Mereka tidak mengajukan alasan yang terang (tentang keyakinan mereka?) Siapakah yng lebih dzalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?” (Al-Kahfi: 15)
Ketika mereka sepakat terhadap persoalan ini,
mereka sadar, tidak mungkin menampakkannya kepada kaumnya. Mereka berdoa kepada
Allah Subhanahu wa Ta’ala agar memudahkan urusan mereka:
رَبَّنَاآتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ
لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا
“Wahai Rabb kami, berilah kami rahmat dari
sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami.”
(Al-Kahfi: 10)
Mereka pun menyelamatkan diri ke sebuah gua yang
telah Allah Subhanahu wa Ta’ala mudahkan bagi mereka. Gua itu cukup luas dengan
pintu menghadap ke utara sehingga sinar matahari tidak langsung masuk ke
dalamnya. Kemudian mereka tertidur dengan perlindungan dan pegawasan dari Allah
selama 309 tahun. Allah Subhanahu wa Ta’ala buatkan atas mereka pagar berupa
rasa takut meskipun mereka sangat dekat dengan kota tempat mereka tinggal.
Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri yang menjaga mereka selama di dalam gua.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِيْنِ وَذَاتَ
الشِّمَالِ
“Dan Kami bolak-balikkan mereka ke kanan dan ke
kiri.” (Al-Kahfi: 18)
Demikianlah agar jasad mereka tidak dirusak oleh
tanah. Setelah tertidur sekian ratus tahun lamanya, Allah Subhanahu wa Ta’ala
membangunkan mereka لِيَتَسَاءَلُوا (agar mereka saling bertanya), dan supaya
mereka pada akhirnya mengetahui hakekat yang sebenarnya. Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman:
قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْ قَالُوا
لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ قَالُوا رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا
لَبِثْتُمْ فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَذِهِ إِلَى الْمَدِْينَةِ
“Berkatalah salah seorang dari mereka: ‘Sudah berapa lama kalian menetap (di sini)?’ Mereka menjawab: ‘Kita tinggal di sini sehari atau setengah hari.’ Yang lain berkata pula: ‘Rabb kalian lebih mengetahui berapa lamanya kalian berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kalian pergi ke kota membawa uang perakmu ini’.” (Al-Kahfi: 19)
“Berkatalah salah seorang dari mereka: ‘Sudah berapa lama kalian menetap (di sini)?’ Mereka menjawab: ‘Kita tinggal di sini sehari atau setengah hari.’ Yang lain berkata pula: ‘Rabb kalian lebih mengetahui berapa lamanya kalian berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kalian pergi ke kota membawa uang perakmu ini’.” (Al-Kahfi: 19)
4. Hikmah yang dapat diambil dari Kisah
Ash-Habul Kahfi.
Di dalam kisah ini terdapat tanda-tanda kekuasaan
Allah yang nyata. Di antaranya:
1) Walaupun menakjubkan,
kisah para penghuni gua ini bukanlah ayat Allah yang paling ajaib. Karena
sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mempunyai ayat-ayat yang menakjubkan yang
di dalamnya terdapat pelajaran berharga bagi mereka yang mau memerhatikannya.
2) Sesungguhnya siapa
saja yang berlindung kepada Allah, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala
melindunginya dan lembut kepadanya, serta menjadikannya sebagai sebab orang-orang
yang sesat mendapat hidayah (petunjuk). Di sini, Allah Subhanahu wa Ta’ala
telah bersikap lembut terhadap mereka dalam tidur yang panjang ini, untuk
menyelamatkan iman dan tubuh mereka dari fitnah dan pembunuhan masyarakat
mereka. Allah menjadikan tidur ini sebagai bagian dari ayat-ayat (tanda
kekuasaan)-Nya yang menunjukkan kesempurnaan kekuasaan Allah dan berlimpahnya
kebaikan-Nya. Juga agar hamba-hamba-Nya mengetahui bahwa janji Allah itu adalah
suatu kebenaran.
3) Anjuran untuk
mendapatkan ilmu yang bermanfaat sekaligus mencarinya. Karena sesungguhnya
Allah mengutus mereka adalah untuk hal itu. Dengan pembahasan yang mereka
lakukan dan pengetahuan manusia tentang keadaan mereka, akan menghasilkan bukti
dan ilmu atau keyakinan bahwa janji Allah adalah benar, dan bahwa hari kiamat
yang pasti terjadi bukanlah suatu hal yang perlu disangsikan.
4) Adab kesopanan bagi
mereka yang mengalami kesamaran atau ketidakjelasan akan suatu masalah ilmu
adalah hendaklah mengembalikannya kepada yang mengetahuinya. Dan hendaknya dia
berhenti dalam perkara yang dia ketahui.
5) Sahnya menunjuk wakil
dalam jual beli, dan sah pula kerjasama dalam masalah ini. Karena adanya dalil
dari ucapan mereka dalam ayat:
فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَذِهِ إِلَى
الْمَدِيْنَة
“Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi
ke kota membawa
uang perakmu ini.” (Al-Kahfi: 19)
6) Boleh memakan makanan
yang baik dan memilih makanan yang disenangi atau sesuai selera, selama tidak
berbuat israf (boros atau berlebihan) yang terlarang, berdasarkan dalil:
فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَى طَعَامًا
فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِنْهُ
“Hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih
baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu.” (Al-Kahfi: 19)
7) Melalui kisah ini kita
dianjurkan untuk berhati-hati dan mengasingkan diri atau menjauhi tempat-tempat
yang dapat menimbulkan fitnah dalam agama. Dan hendaknya seseorang menyimpan
rahasia sehingga dapat menjauhkannya dari suatu kejahatan.
8) Diterangkan dalam
kisah ini betapa besar kecintaan para pemuda yang beriman itu terhadap ajaran
agama mereka. Dan bagaimana mereka sampai melarikan diri, meninggalkan negeri
mereka demi menyelamatkan diri dari segenap fitnah yang akan menimpa agama
mereka, untuk kembali pada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
9) Disebutkan dalam kisah
ini betapa luasnya akibat buruk dari kemudaratan dan kerusakan yang menumbuhkan
kebencian dan upaya meninggalkannya. Dan sesungguhnya jalan ini adalah jalan
yang ditempuh kaum mukminin.
Bahwa firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
قَالَ الَّذِيْنَ غَلَبُوا عَلَى أَمْرِهِمْ
لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِمْ مَسْجِدًا
“Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka
berkata: ‘Sungguh kami tentu akan mendirikan sebuah rumah ibadah di atas
mereka’.” (Al-Kahfi: 21)
10) Di dalam ayat ini terdapat dalil bahwa
masyarakat di mana mereka hidup (setelah bangun dari tidur panjang) adalah
orang-orang yang mengerti agama. Hal ini diketahui karena mereka sangat
menghormati para pemuda itu sehingga sangat berkeinginan membangun rumah ibadah
di atas gua mereka. Dan walaupun ini dilarang –terutama dalam syariat agama
kita– tetapi tujuan diceritakannya hal ini adalah sebagai keterangan bahwa rasa
takut yang begitu besar yang dirasakan oleh para pemuda tersebut akan fitnah
yang mengancam keimanannya, serta masuknya mereka ke dalam gua telah Allah
Subhanahu wa Ta’ala gantikan sesudah itu dengan keamanan dan penghormatan yang
luar biasa dari manusia. Dan ini adalah ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala
terhadap orang yang menempuh suatu kesulitan karena Allah, di mana Dia jadikan
baginya akhir perjalanan yang sangat terpuji.
11) Pembahasan yang berbelit-belit dan tidak
bermanfaat adalah suatu hal yang tidak pantas untuk ditekuni, berdasarkan
firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
فَلاَ تُمَارِ فِيْهِمْ إلاَّ مِرَاءً ظَاهِرًا
فَلاَ تُمَارِ فِيْهِمْ إلاَّ مِرَاءً ظَاهِرًا
“Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar
tentang keadaan mereka, kecuali pertengkaran lahir saja.” (Al-Kahfi: 22)
12) Faedah lain dari kisah ini bahwasanya
bertanya kepada yang tidak berilmu tentang suatu persoalan atau kepada orang
yang tidak dapat dipercaya, adalah perbuatan yang dilarang. Karena Allah
Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan:
وَلاَ تَسْتَفْتِ فِيْهِمْ مِنْهُمْ أَحَدًا
وَلاَ تَسْتَفْتِ فِيْهِمْ مِنْهُمْ أَحَدًا
“Dan jangan pula bertanya mengenai mereka (para
pemuda itu) kepada salah seorang di antara mereka itu.” (Al-Kahfi: 22)
Al-Qur’anul Kariim
Dengan panjang lebar kitab Qishashul Anbiya mulai
dari halaman 566 meriwayatkan sebagai berikut:
Penulis kitab Fadha’ilul Khamsah Minas Shihahis
Sittah (jilid II, halaman 291-300), mengetengahkan suatu riwayat yang dikutip
dari kitab Qishashul Anbiya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar